Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan tuntutan hidup yang kian menyesakkan, Willy Winarko hadir dengan sebuah single berjudul “Okay?”—sebuah karya yang terasa seperti pelukan sunyi bagi mereka yang sedang belajar bertahan. Lagu ini bukan sekadar rilisan baru, melainkan ruang aman bagi pendengar untuk mengakui lelah, ragu, dan rapuh tanpa perlu merasa kalah.
“Okay?” lahir dari kegelisahan yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang dewasa muda: tekanan untuk selalu terlihat kuat, tuntutan untuk terus melangkah, serta kebiasaan menyembunyikan perasaan di balik senyum dan kata “nggak apa-apa”. Willy Winarko meramu semua itu menjadi lagu yang sederhana, jujur, dan emosional—tanpa berusaha menggurui.
Secara musikal, “Okay?” dibalut aransemen minimalis yang memberi ruang besar bagi lirik dan vokal Willy untuk berbicara. Nada-nada lembut, tempo yang tenang, dan progresi harmoni yang bersahaja menciptakan suasana reflektif, seolah mengajak pendengar berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia. Lagu ini terasa seperti percakapan larut malam dengan diri sendiri—sunyi, tapi penuh makna.
Lirik “Okay?” menjadi kekuatan utama. Willy tidak menawarkan solusi instan atau janji manis tentang masa depan. Sebaliknya, ia mengajukan pertanyaan sederhana namun dalam: “Apakah kamu benar-benar baik-baik saja?” Pertanyaan yang sering kita dengar, tapi jarang benar-benar kita jawab dengan jujur. Di situlah lagu ini menemukan relevansinya—menjadi cermin bagi perasaan yang kerap kita pendam.
Sebagai musisi, Willy Winarko menunjukkan kedewasaan dalam bercerita. Ia memahami bahwa menjadi dewasa bukan soal selalu menang, melainkan soal bertahan meski tak selalu tahu arah. “Okay?” menjadi ode kecil bagi mereka yang masih berjuang, yang mungkin belum sampai tujuan, tapi tetap memilih untuk bangun dan melangkah setiap hari.
Dengan single ini, Willy Winarko menegaskan posisinya sebagai penulis lagu yang peka terhadap realitas emosional generasinya. “Okay?” bukan lagu yang berisik, namun justru kekuatannya ada pada keheningan yang ia ciptakan—keheningan yang jujur, menenangkan, dan terasa sangat manusiawi.
Pada akhirnya, “Okay?” mengingatkan kita bahwa tidak apa-apa untuk tidak selalu baik-baik saja. Bahwa bertahan pun adalah sebuah kemenangan. Dan bahwa di tengah kerasnya dunia dewasa, kita semua hanya butuh satu hal sederhana: didengarkan.


Leave a Reply